26

Jul

 

SEKS GULAT LUMPUR

Posted By : Emka In : Events, Life & Fun, On Saturday, July 26th, 2008, 9:54 pm

Apa jadinya pelayanan seks body massage dipadu dengan lumpur hijau? Jadinya ya seks gulat lumpur : ber’tempur’ di dalam bath-up secara full-body-contact tanpa ampun.

Mandi susu, body massage, dan lulur tripel-X!!! Tiga jenis menu seks itu sampai hari ini masih diminati banyak tamu di sejumlah tempat senang-senang yang menawarkan seks sebagai sajian utama. Bukan rahasia lagi, kalau ketiga menu itu sempat jadi menu favorit yang bisa ditemukan di beberapa tempat seperti spa, salon, massage parlour dan sauna.

Karena tuntutan pasar dan dalam rangka memanjakan selera para customer, seks mandi susu dan body massage dipermak sedemikian rupa dengan wajah dan nama baru : gulat lumpur! Biasa, trik seperti ini kerap dipratikkan sejumlah tempat pelesir, biar jajanan seks tetap laku. Dalam praktiknya, ya tidak beda jauh dengan mandi susu. Kalaupun ada, paling tak lebih 1-2 variasi saja.

Terapi mandi susu dan lulur, awalnya memang diciptakan dalam rangka kesehatan dan kebugaran. Tapi, lantaran di sejumlah tempat pelesir ada bumbu seksnya, terapi kesehatan itu berubah jadi terapi “buang tai macan” alias pemenuhan hasrat biologis.

“Tapi kan ada juga yang memadukan keduanya,” sela Bob, teman gue.

“Maksud elu, terapi jalan, seks –nya juga jalan. Begitu kan?” imbuh gue, mencoba untuk meluruskan ucapan Bob.

“Ya iyalah, masak ya iya dong!” seru Bob dengan bahasa gaulnya……

(BACA SELENGKAPNYA DI : X2 Magazine, Edisi Agustus 2008)

 

|281 Comments »|
         
         
         
 

14

Jul

 

MALU BERTANYA NYASAR DI RANJANG

Posted By : Emka In : Movies, On Monday, July 14th, 2008, 6:34 pm

Sebulan ini, gue lumayan sibuk dengan sejumlah proyek film, sebuah dunia yang tadinya masih asing buat gue. Tapi begitu mulai masuk dan nyebur ke dalam, eeiit…ternyata mengasyikkan. Nggak beda jauh ama industri buku. Benang merahnya erat bangets.

Makanya, setelah melalui diskusi yang lumayan panjang, gue bersama Krishto & Mandy Marahimin, akhirnya sepakat untuk mengibarkan bendera Lolipop Pictures.

Thanks, God! Sejumlah proyek sudah menunggu di depan mata. Salah satunya yang sekarang lagi gue gali ceritanya adalah Malu Bertanya Nyasar Di Ranjang. Jangan mikir ngeres dulu begitu baca judulnya. Cerita ini, maunya gue lebih banyak unsur komedinya. Dan ikon Ranjang sekedar jadi “pemanis” lah biar kayak permen Lolipop.

Setting ceritanya juga nggak ribet-ribet banget kok. Kira-kira tentang seorang cowok yang so tau, super pede, keras kepala, dan nggak gaul (tapi punya duit). Gara-gara beberapa sifatnya itu lah, membuat cowok itu mesti melalui sebuah petualangan yang akhirnya membawa dia pusing tujuh keliling.

Misalnya : apa yang terjadi dengan cowok itu ketika suatu ketika ia nyasar di sebuah kelab transeksual? atau….ketika ia salah masuk ke sebuah bar gay? atau…saat si cowok yang so tau itu neken viagra yang tadinya dia pikir permen?

Ck…ck…maunya gue, mood film itu dipenuhi adegan “kekagetan” dan kekonyolan yang seru (and so pasti bikin ketawa).

***

|306 Comments »|
         
         
         
 

8

Jul

 

BERCINTA DI ATAS CLOSET

Posted By : Emka In : Life & Fun, On Tuesday, July 8th, 2008, 5:15 pm

Kepada Closet, hari ini gue banyak bercerita dan bertanya. Sebabnya sederhana, dari pagi ampe sore, gue balok-balik ke toilet sampai 4 kali.

(1) Bangun tidur, perut gue mendadak mules dan terpaksa harus duduk termenung di atas closet sambil baca koran hari ini. Mungkin karena kebanyakan makan sambel dan indomie rebus yang gue telen jam 4 pagi sambil main gaple di kawasa Menteng. Selain berita Kedubes India yang kena bom Kabul, gue juga dapet berita soal kemenangan Rafael Nadal atas Roger Federer di ajang Wimbledon yang diakuinya sebagai “kemenangan terindah”.

(2) Selesai dari toilet, gue bersantai di teras rumah sambil menyeruput segelas kopi. Sebatang rokok yang gue hisap, rasanya nikmat sekal. Sayang, pagi itu suasana agak sepi karena Jacko —anjing pitpull temen gue, lagi diungsikan ke rumah saudaranya di Kelapa Gading. Baru 10 menit leha-leha, perut gue mules lagi. Jadinya, gue buru-buru ke toilet lagi dan merenug di atas closet untuk kedua kali.

“Cerita Kebelet Kawin mesti pake setting apa ya?”

Otak gue jadi kepikiran cerita Kebelet Kawin yang mesti kelar hari ini.

“Sinopsis Belilah Aku Jadi Pacarmua kayaknya kurang oke tuh. Mesti gue ubah di prolognya sama lika-liku yang terjadi di dunia escorting?”

Satu demi satu, otak gue dipenuhi pertanyaan seputar cerita Kebelet Kawin dan Belilah Aku Jadi Pacarmu. Selama 15 menit di atas closet, gue belum juga menemukan ide cemerlang. Buntu! Semuanya masih berbentuk pertanyaan.

(3) Perih! Bukannya lega, perut gue malah makin sakit. Pasti ini karena kebanyakan makan sambel dan jadwal tidur yang nggak menentu. Sambil duduk di sofa dan nonton tipi, otak gue berpikir mencari-cari ide. Tapi, rasa sakit di perut gue, nggak banyak membantu. Malah, untuk ketiga kalinya, gue mesti balik lagi bercinta dengan closet.

“Cowok yang kebelet kawin itu mestinya harus tipikal libido tinggi, nggak nakal, malu-malu kucing dan bla…bla..bla….” otak gue terus berputar.

“Cewek yang jadi tokoh di Belilah Aku Jadi Pacarmu harus “beda banget” dari film-film yang udah ada. Konfliknya mesti lokal banget, sisi sex ‘n Jakarta-nya harus dominan, dan seterusnya….”

Byar! Lagi-lagi pertanyaan itu belum terjawab dengan sukses. Finally, jam 1 siang, gue mandi dan segera meluncur ke Coffee Club, Plaza Senayan.

(4) Meneguk secangkir kopi, untuk kedua kali sambil membuka email. 15 menit kemudian, perut gue mules lagi. Untuk kali keempat, gue duduk lagi di atas closet. Dan…ide itu tiba-tiba datang. Melesat dengan cepat dan tahu-tahu, di kepala gue udah kebayang kerangka cerita yang mesti gue masukin buat film Kebelet Kawin dan Belilah AKu Jadi Pacarmu.

“Enak juga merenung di atas closet. Cukup membantu gue menemukan ide meskipun rada serabutan. Setidaknya, rasa sakit di perut gue, jadi kebayar lunas….”

Note : Punya cerita yang menarik tentang closet? Nggak ada salahnya share di web ini. Thanks!!!! (foto: courtessy www.tempe.gov)

****

|286 Comments »|
         
         
         
 

6

Jul

 

Sorry, Elu Basi Malam Ini !!!

Posted By : Emka In : Night Life, On Sunday, July 6th, 2008, 5:51 pm

 

Pergi hang-out ke klab, diskotek atau kafe itu mestinya memang untuk seneng-seneng. Tapi apa jadinya ketika niat seneng-seneng tiba-tiba berubah jadi garing alias basi. Gara-garanya simpel : tempat hang-out yang tadinya “uenaaak” banget, berubah jadi “nggak enak bangeeeetsss”.

Dari “ueeenaaak” jadi “nggak enak” itu pasti ada sebabnya. Buat gue, hang-out ke Red Square di kawasan Senayan, Jum’at malam lalu, jadi hang-out yang “garing” alias basi.

SEBELUMNYA =  bar kecil yang ada di lantai dasar di Plaza Arcadia-Senayan, friendly (tidak saja tamu-nya tapi juga manager, security ampe bartender), hommy, crowd-nya OK, everybody bisa dengan lepas naik bar, joget, dll. Pokoknya “nice” dan “welcome” banget.

SEKARANG =  pindah ke lantai 1 dengan area yang lebih luas dan desain interior baru, ehmmm….kok jadi beda ya. Wajah-wajah “friendly” yang sebelumnya hampir pasti gue temui, nggak ada lagi. Jum’at malam berlaku hukum cover-charge untuk “siapapun” kecuali yang punya kartu member.  Musiknya  “nggak” se-enak sebelumnya.

Jum’at malam kemarin, jadi cerita basi buat gue. Basi karena gue tidak menemukan suasana Red Square yang dulu. Sejumlah wajah yang gue kenal dengan baik dan biasanya ramah, jadi “sok nggak kenal”. Musik-musik dj yang biasanya enak banget buat joget, jadi “monoton” banget. Apakah ini karena DJ Larry udah pindah atau karena apa, gue juga nggak ngerti.

Well, daripada bego, mending gue sok asyik saja ama beberapa temen yang kebetulan malam itu hang-out bareng gue. Namanya juga sok asyik, jadinya gue hanya bertahan  selama satu jam-an. Abis itu, mencari tempat hang-out lain yang lebih OK.

“Sorr, kalo elu basi malam ini,” ujar Lia, temen gue yang malam itu ngerasa bersalah karena dia yang ngajak gue hang-out.

“It’s OK. Kita bisa cari tempat lain kan…!”  jawab gue dengan senyum ala kadarnya.

Yang jadi pertanyaan gue adalah kenapa tempat yang sebelumnya so far OK bangeeet, mesti berubah hanya karena pindah tempat dan beberapa aturan yang, maaf, membuat para tamu “member-face” jadi bete????

Ya, sudahlah. Mungkin gue lagi salah hari. Lain kali, kalo mau hang-out ke Red Square mending gue akan pilih hari lain, dan yang pasti : bukan Jum’at malam. Siapa tahu, Rabu atau Kamis malam-nya lebih OK. Siapa tahu who knows….(?)

****

|298 Comments »|
         
         
         
 

1

Jul

 

DOGGY STYLE

Posted By : Emka In : Life & Fun, Movies, On Tuesday, July 1st, 2008, 6:56 pm

Anjing menggonggong, kafilah berlalu! Guk..guk..guk! Ini nggak ada hubungannya ama pepatah ngetop itu. Ini gara-garanya gue lagi sering ketemu ama Jacko. Bukan nama orang, tapi nama anjing temen gue. Nggak nanggung-nanggun, Jacko adalah anjing berjenis Pitpull red-nose. Umurnya baru 4 bulan, tapi badannya udah gede banget.

Hampir tiap pagi, gue ngeliatin Jacko “jalan-jalan” di depan rumah dan astaga….”kalo nggak kencing terus berlanjut boker”, pastinya Jacko lagi lari-lari dengan lidah menjulur mengitari mobil gue. Mungkin karena masih kecil jadinya demen banget “maen-maen”.

Saking seringnya ngeliatin Jacko kencing lalu boker, otak gue tiba-tiba teringat dengan gaya Doggy Style yang sering disebut sebagai salah satu “gaya ngeseks” yang oke bangeeetsss.

Gue jadi mikir, apanya yang oke dari Doggy Style? Coba bayangin anjing yang lagi “ngangkang” dengan bertumpu pada kakinya yang melebar. Busyet…gue jadi geli sendiri. Tapi kenapa gaya itu bisa ngetop banget ya ketika disangkutpautkan dengan seni ML (Making Love yang biasanya bisa bikin orang “Mau Lagi” dan “Mau Lagi”, hehehe…)….????

“Doggy Style memang variasi yang beda kok. Nggak kalah ama gaya 69,” ujar seorang teman mencoba mencari-cari jawaban yang pas.

“Dalam seks, gaya apapun di”bolehkan”. Kalo perlu, yang paling “aneh” sekalipun,” sambung satu temen yang lain.

“Ya iyalah! Selain gaya tumpang tindih alias posisi atas-bawah, pastinya berlaku juga gaya minak jinggo (miring penak jengking monggo) dan beribu gaya lainnya,” celetuk gue, sporadish.

Maksudnya, analogi Doggy Style memang nggak beda jauh dengan gaya nungging (jengking = bhs. jawa). Namanya juga variasi, jadi sah-sah saja orang mau pake gaya apa saja. Lebih-lebih, ini kaitannya ama urusan gaya ngeseks. Jangankan Doggy Style, ragam gaya yang lainnya pun bahkan kini telah dijadikan “main-course” di sejumlah tempat pelesir khusus pria-pria yang hobi buang tai macan. Sebut saja gaya helikopter alias seks nyungsang, petik anggur, gembok underwear, ranjang elektrik + 16 tali, suster nyedot, nude-army-look dan lain-lain.

“Namanya juga seks. All is about the game. Cuma maen-maen!” kata seorang papi yang biasa bertugas di sebuah kelab XXX di kawasan Mangga Besar.

Kalo cuma maen-maen, lalu pada bedanya ama si Jacko? Jangan-jangan, istilah Doggy Style itu  muncul karena orang yang menciptakan istilah itu sering maen ama anjing. Ssssttttt!!!! Maaf, gue jadi mikir yang nggak-nggak. Tapi, ehmmm…bisa jadi siiiihhhhh!!!

Sudahlah! Cerita ini jangan dimasukin ke hati. Just kidding kok! Intinya, gue pengen membuat cerita lain soal Doggy Style yang tidak ada hubungannya ama urusan seks. Maunya gue, Doggy Style yang  ada hubungannya ama filosofi hidup yang didalamnya muncul nilai-nilai cinta. Gimana caranya ya…? Yang jelas, sekarang ini gue lagi sibuk merangkai kerangka ceritanya.

________________________

Photo: sexuality.about.com

|482 Comments »|

 
         
     
Copyright © 2008 www.emkamoammar.com
All rights reserved

Powered By : TukuSolution