26

May

 

BELILAH AKU JADI PACARMU

Posted By : Emka In : Books, Movies, On Monday, May 26th, 2008, 7:49 pm

:: No Money, No Pacaran ::

 

Sebuah ide, bisa datang dengan sangat tiba-tiba dan tanpa sengaja. Jadi tidaklah salah, kalau ada ungkapan yang menyebutkan : ide itu ada dimana-mana dan nggak ada habisnya. Seperti halnya judul Belilah Aku Jadi Pacarmu yang muncul begitu saja ketika gue lagi di Jogyakarta dan ngobrol selama 2 jam di telepon dengan seorang cewek dari Jakarta.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, begitu kelar nelpon, gue langsung membuat draft cerita Belilah Aku Jadi Pacarmu. Ya, kira-kira ceritanya akan bermuara pada kisah cewek-cewek yang hidup di Jakarta yang punya gaya hidup “hi-class” dan punya segudang perilaku unik. Salah satunya adalah perilaku yang menganut paham ala “escort” dalam hal pacaran (relationship). Artinya, pacaran hanyalah sebuah symbol belaka dan ujung-ujungnya tetap berbuntut pada urusan “uang”.

Dalam alurnya,  akan ada muncul sejumlah tokoh cewek yang notabene “No money, No pacaran”,  atau “No Hermes, No pacaran”.  Akan muncul juga tokoh cowok yang demi gengsi dan prestige rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk mendapatkan “pacar” yang layak ditenteng dan dipamerin dimana-mana. 

Ceritanya akan dibuat bergaya “cosmopolitan”. Kiblatnya kira-kira nggak jauh dari serial televisi “Sex and the City” dengan tokoh fenomenalnya : Sarah Jessica Parker. 

Tadinya, judul  Belilah Aku Jadi Pacarmu ini akan gue buat jadi satu artikel lepas di salah majalah Ibukota. Tapi, ternyata….dari buzz on buzz yang gue lakukan dan respon yang masuk, akhirnya gue memutuskan untuk menjadikannya sebagai buku dan film.

“Judulnya asyik banget !!!” seru Krishto Damar Alam, temen gue yang saban hari bergelut di dunia film. Dan komen itu ternyata juga di-amini sejumlah temen-temen deket gue. 

Thank’s God ! Semoga buku dan filmnya bisa secepatnya direalisasikan.

 

|28 Comments »|
         
         
         
 

26

May

 

“Perkawinan” Film dan Buku

Posted By : Emka In : Events, On Monday, May 26th, 2008, 7:20 pm

:: Dari layar lebar ke buku, dari buku ke layar lebar ::

Ngobrolin buku dan film. Tema besarnya : dari layar lebar ke buku, dan dari buku ke layar lebar. Kejadiannya ada di Tarumanegara Knowledge Center (TKC), 23 Mei 2008, dari jam 13.30 Wib sampai jam 16.30 Wib. Bedah kasusnya, buku gue “Jakarta Undercover” yang menjelam jadi layar lebar dan dirilis pada April 2007.

Gue tentu tidak sendiri. Siang itu, gue ditemani Ve Handojo (penulis sejumlah skrip film seperti Buruan Cium Gue, Jatuh Cinta Lagi, dan Kuntilanak 1,2&3), El Manik (aktor kawakan), Burhanudin Abe dan Ita Sembiring.

Dalam acara itu, gue ingat sejumlah pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi yang rata-rata dari kalangan civitas akademika Tarumanegara. Antara lain :

(1) Enak mana : nulis dari buku ke film atau dari film ke buku?

Gue : Secara pribadi, gue bilang lebih enak nulis dari film ke buku. Karena udah ada skripnya. Tantangannya : tinggal mencari pilihan kata-kata yang “pas” untuk mendiskripsikan gambar ke dalam teks.

(2) Gimana cara menghadapi pro-kontra buku Jakarta Undercover?

Gue : Ya, hadapi saja. Selama semua masih dalam koridor “diskusi” dan “dialog”, pro kontra itu mesti diterima dengan lapang dada. Malah jadi “basi”, kalau sebuah karya (entah itu buku atau film) tidak ada “kontra”nya. Kalau semua pro, pasti tidak ada wacana yang nongol di permukaan.

(3) Tips & Trik nulis buku yang OK dan laku di pasar?

Gue : Waduh, kalo itu butuh penjabaran yang panjang lebar. Dan yang pasti, mesti belajar nulis secara serius. Tapi kalo sekedar mo tahu rumus-nya secara garis besar, setidaknya mesti memperhatikan (a) temanya harus tidak biasa. Yang aneh sekalian malah oke banget, extra-ordinary (b) judulnya mesti keren dan langsung menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan ketika orang membaca dan mendengarnya (c) promosi nya harus berkesinambungan, kreatif dan inovatif. Karena menulis itu bukan talenta, gue percaya pada niat dan usaha yang serius. Yang paling penting : niat mau menulis itu mesti beneran bukan semau-mau-nya. Kalo basic-nya itu udah OK, gue yakin, semua akan running-well. Dan percayalah, semua yang ada di sekitar kita adalah ide yang bertebaran. Nggak pernah mati, dan nggak ada habis-habisnya.

Masih banyak pertanyaan yang muncul. Dan kehadiran Ve Handojo dan El Manik serta nimbrungnya Burhanudin Abe + Ita Sembiring makin menyemarakkan suasana diskusi siang itu.

Ve : Jangan takut ditolak kalo ngasih naskah ke penerbit. Karena penolakan itu “biasa banget” dan anggap saja bagian dari pekerjaan yang tertunda. Dan yang paling penting, nggak ada kata menyerah. Mesti coba lagi dan coba lagi.

El Manik : Sebuah novel atau buku, ketika dijadikan sebuah film, bisa memuaskan penonton 60-70% saja sudah sangat bagus.

****

|284 Comments »|
         
         
         
 

25

May

 

Cinta Kedodoran

Posted By : Emka In : Love, On Sunday, May 25th, 2008, 10:08 pm

Mumpung cinta lagi sibuk-sibuknya menyapa kesendirianku, tak ada salahnya jika hari ini tiba-tiba aku menjadi sesosok pujangga melankolis yang sok puitis. Mumpung malam belum beranjak dini, tak ada salahnya aku meringis di tengah gerimis. Siapa tahu, hatiku yang lagi dilanda virus kedodoran cinta ini bisa terobati. Setidaknya, lewat ekspresi kata-kata. Daripada menyimpannya seorang diri, lebih baik aku tebarkan setiap incinya pada maya….

Semua memang tanpa rencana. Semua serba kebetulan. Tahu-tahu, dia hadir begitu saja dan meninggalkan secuil senyum yang mengusik tidurku hingga tak lena.

Dear, Ms. Nyebelin…!!!!!

Inikah sebuah pertanda? Pertama kali tatapku yang bergulir nyata pada beningnya matamu, telah memasung bahagiaku tanpa ampun. Tak peduli seberapa lemah getar itu menyisir kalam batinku. Aku hanya tahu, ada rindu yang kujaga untukmu.

Sampai detik ini, gersang dambaku merajuk senyap di tempias lugu sapamu. Terpendar mencipta bintang yang membiaskan terang pada teduh dua bola matamu, Tiba-tiba, rinduku begitu telak menusuk kesendirianku. Membawa anganku bergerak membingkai wajahmu seketika. Detik ini, tak ada yang kuinginkan selain menatap derai indah tawamu.

Mestinya, tak kubenamkan segala damba padamu. Tapi ada daya, perjumpaan sesaat yang menyekat sapaku terkurung di ruang hatimu, telah menggiring mataku luluh dalam rindu. Tiba-tiba menjelma nyata, memaksaku takluk dalam cinta yang menyulut bahagia baru.

Biarpun sepi tak usai dan terus menyergap sadarku dari keterasingan. Tapi setidaknya, aku mulai sadar…rinduku pun tak juga usai. Merapal namamu dari jerti ketakutanku. Menyesatkan cintaku yang tak surut memamah usai. Mencatut hatimu menjadi satu-satunya yang terindah, untukku…! Apakah ini nyata atau semu…? Apakah ini janji atau sekedar ilusi? Hanya palung batinmu yang mampu mengurai. Aku hanya mengibarkan bendera tanda, selebihnya dirimulah yang mesti mengulur bening talinya, untukku….

Dan, biarkan ini menjadi cinta, jika ini adalah segenap rasaku yang berbicara. Biarkan ini menjadi nyata, jika ini adalah hatiku yang jadi jembatannya. Biarkan ini menjadi bahagia, jika ini adalah jalannya. Biarkan bahagia itu sendiri yang mengurai segala warasku menjadi ada. Yang pasti, bahagiaku ini ada untuk jadi nyata, bukan sia-sia…

|439 Comments »|
         
         
         
 

24

May

 

Moammar Emka, Datang Dengan Cinta Pulang Dengan Kolor

Posted By : Emka In : Movies, On Saturday, May 24th, 2008, 9:17 pm

Sudah lama tidak terdengar kabar, diam-diam penulis novel sekaligus penulis skenario Jakarta Undercover, Moammar Emka, kini tengah sibuk mempersiapkan sebuah skrip terbaru miliknya. Dan tidak jauh berbeda dengan apa yang kerap ia tulis dalam beberapa novelnya, ceritanya kali ini juga akan mengetengahkan bumbu romantisisme cinta sebagai balutan ceritanya.

“Gue sekarang lagi nyiapin skrip film, judulnya Kolor For Love. Yah memang ada adegan-adegan “kolornya” (istilah yang dipakai Emka dalam menyebut adegan seks, red.) juga,” tukas Emka ketika dihubungi via telephone pada Selasa (13/5) siang.

Kolor For Love adalah sebuah cerita komedi yang menyatakan bahwa tidak semua laki-laki di dunia adalah “bangsat”, karena ada juga laki-laki yang mencintai perempuan dengan tulus.

“Ceritanya itu nanti ada seorang laki-laki yang menikah sama cewe kaya raya, tapi karena sesuatu hal, akhirnya mereka berpisah. Namun karena sang lelaki mencintai wanitanya dengan tulus, ketika dia pergi, dia hanya membawa celana kolornya aja,” jelas Emka yang menyebutkan karena itulah tagline film ini berbunyi “Datang Dengan Cinta, Pulang Dengan Kolor”.

Ide ceritanya sendiri, diungkapkan oleh Emka datang dari pengamatannya terhadap kehidupan sekitarnya. “Ide ceritanya dari gue, dan kalo ditanya inspirasinya dari mana, sederhana aja sih, dari kehidupan keseharian juga koq,” tukas pria kelahiran Tuban, 13 Februari 1974 ini.

Diakhir pembicaraan, Emka juga mengatakan bahwa ia tengah mempersiapkan lanjutan film Jakarta Undercover 2, dan cerita-cerita lainnya seperti Sedang-Sedang Syur, serta Tumpang Tindih (Hidup Eror ala Kera Manjat Pohon). “Tapi yang rencananaya akan dikerjakan duluan itu, Kolor For Love,” tutur Emka. (ajo)

// Published by www.21cineplex.com. //Foto : Courtesy www.21cineplex.com

P.S : Tagline Tumpang Tindih adalah Gaya Hidup Eror di Balik Kolor. Selain itu, ada satu judul buku dan film yang lagi gue corat-coret draftnya : Belilah Aku Jadi Pacarmu.

|269 Comments »|
         
         
         
 

22

May

 

Affirming Sexuality Through Media

Posted By : Emka In : Events, On Thursday, May 22nd, 2008, 6:48 pm

Indonesia Cases : Books, TV, Radio, Movie, & Newspaper/Magazine

====================================================

By Moammar Emka, Chiang Mai, 19-20 June 2007

- The Fact :

It’s hard to talk and write about ‘sexuality’ trough media.

Based on my experiences, we have to be able to create ‘good movement’ and ‘soft news’ to publish sexuality through media.

1) The first,

When I worked for newspaper and magazine among seven years old, the focus of my coverage is nor far from sexuality, which is connected with entertainment and lifestyle in the city of Jakarta. For example, when I worked for the Berita Yudha & Media Indonesia —newspaper daily, or magazine, such as Popular & Matra —two of them is entertainment magazine for men and very popular in Indonesia, I wrote many article about sexual issues. But, I found my problem, espially, to use the language of sexuality.

For example :

I can’t use/mention word of Penis or Vagina. My editor, use the inisial thing : Penis is Mr. Big, the banana or Mr. Jhony. Vagina is V, Miss Vegy, etc.

I can’t describe sexual expression/activity, such as describing the kissing, foreplay, intercousing, etc. in my article.

Oh, God. Gime me free-space to write… Because at that time and I think until now : Sex is taboo. Sex is something we don’t have to talk and discuss.

***

2) So, Is Number two,

When I decide to write my book : Jakarta Undercover and I published on 2002,

- I choose a title with English Language : Jakarta Undercover. For me, it’s cool.

- I used many English language to describe the sexual activity. And offcourse, use the initial or metaphor language. Such as : Making Love with full body contact, Buah Dada = bukit kembar (boobs), to mention sex = X symbol (such as massage XXX, sauna XXX, doing XXX activity, etc) or use ++ symbol (sauna ++, girls ++, massage boy ++, etc.

- The other thing, I wrote my book with light-head-line. Why? I realized, before there is no book with subject matter is sexual life. Most people can’t except the sexual- material

- I wrote about (1) the prostitution : \what’ happened? Who are they? (2) the community who celebrate their sex-expressio or celebrate the sex-pleasure.

***

Side-effect :

I was surprised, my book being a best seller, and make the people ‘shock’. It’s really happened? Is it true what I have wrote? Etc. They don’t believe Jakarta is a big city with the big sex-industry. They always asking : is that true or only fantasy?

- More than 3 hundred thousand copies for 2 years.

- People get attention with my book. And the same time, all the media’s in Indonesia, coverage my book as the headline.

- I remebered, when I was hosted The Nitelife-program on Metro TV (one of news TV in Jakarta), I’ve got more than 400.000 SMS (short message service) and 200.000 phones among one hour and a half running the program.

- For 1 year, people and media still get attention with my book. TV, Radio, etc. universities, muslim organizatation, and the last : the government (parlement).

***

For me, it’s amazing. Coz, I can talk sexuality in everywhere. And at the same time, more than 5 TV station lauch the sexuality program, And at 2003-2004, I was become one of the presenter at RCTI (number one TV in Indonesia) with SILET program (coverage nightlife, sexual issues and entertainment, such as : transgender, LGBT, sex party community, etc. )

But some of my material has being CENCORED by the government through the department of Ministry of Communication and Information. There are many rules in my country :

- Do not show the lip-kissing in the media

- Do not dress up too sexy (such as bikini, under-wear, lingerie,

- Do not talk dirty.

3) Radio :

In 2005-2006, I was an announcer in one of young radio in Jakarta. Guystalk. The subject matter is all about sex…they had a free space to talk…

But, the government through in the name of Islamic Organization, MUI (Committee of Indonesia Ulama, religion leader’s) government representative, send me a warning letter to stop my program.

 

4) Movie :

My movie : Jakarta Undercover was recently released on April 2007. It’s coverage Trasngender issue, victim, violence, etc.

And the fact : Being CENCORED!

***

P.S : Sorri banget nih…karena bahasa Inggris gue pas-pas-an, jadilah artikel ini rada “ngaco” dan “amburadul” !!!!

 

 

|327 Comments »|
         
         
         
 

21

May

 

Ada Rindu di Yogyakarta

Posted By : Emka In : Events, On Wednesday, May 21st, 2008, 11:47 pm

Own Cafe SaganEnam bulan lamanya, gue nggak mampir ke Jogyakarta (bisa juga = Yogya atau Jogja). Terakhir kali gue keluyuran di kota yang berstatus DI alias daerah istimewa itu, gue hang-out di Hugos dan Embassy. Party sampe pagi dan ujung-ujungnya berakhir di lesehan Gudeg di Jl Solo. Makanya begitu ada dapat undangan ngisi talkshow di pameran buku yang diselenggarakan Buka Buku Production di Salatiga, gue sengaja milih nginep di Jogya.

Dan…selama empat hari, gue tidak menyiakan-nyiakan waktu buat “city tour”. Dari mulai makan di warung Sapi Bali yang punya menu khas Iga Bakar (hmmm…yummy) Jl Palagan Tentara Pelajar –persisnya di kawasan Utara Grand Hyatt, nongkrong “berjam-jam” sambil ngobrol2, “tebar pesona”, “nyari kenalan baru”, “browsing”di Own Cafe (Tempat Kongkow Paling Betul) di kawasan Sagan, “ngubek-2″ kawasan Malioboro sampai memborong berbagai jenis batik di toko Batik Tirto Noto di Jl Nogosari Kidul, persisnya di sekitar Kraton Ngayogyakarto.

Busyeeet! Gue seneng banget. Paling nggak, gue bisa ngilangin boring di Jakarta. Semua tempat yang gue singgahi, rasa-rasanya nggak ada yang “mbosenin”. Rencana stay dua hari, jadinya malah molor empat hari. Puncaknya, offcourse, gue nggak lupa “party” di Hugos (Tempat Party Se-party-party-nya) , Rabu malam. Biasalah, ini kayaknya jadwal wajib kalo gue pergi ke luar kota. Saking serunya, gue baru pulang jam 5 pagi.Sayangnya, ada satu yang kurang. Nggak ada “my special one” di samping gue. Dia lagi berada nun jauh di sana. Di tengah kesyahduan gue menikmati suasana Jogya, ada rindu yang hadir dan menyekik tiba-tiba. Rindu yang tumpang tindih tanpa kompromi. Satu untuk Jogya, satu lagi untuk “my special one” di sana. Menyudutkanku dalam debar yang memamah gundah. Aaahhhhhh, nyebelin!!!!

|301 Comments »|
         
         
         
 

8

May

 

JANDA TANYA, JANDA SERU (2)

Posted By : Emka In : Movies, On Thursday, May 8th, 2008, 6:44 pm

It’s gonna be movie – title. Yes, judul di atas kemungkinan besar akan dijadikan judul film. Terus terang, judul Janda Tanya Janda Seru itu muncul begitu saja saat gue dan temen-temen biasa ngerumpi dan latah-latahan di Menteng. Entah siapa yang memulai, kalimat Janda Tanya dan Janda Seru muncul begitu saja di tengah obrolan. Dan gue surprise banget karena ketika ada temen gue yang kerjaannya sebagai produser film, sangat tertarik untuk menjadikan Janda Tanya Janda Seru sebagai judul film.

Tawaran yang sangat menarik itu, tentu saja nggak gue sia-sia-in. Namanya juga kesempatan, datangnya seringkali nggak disangka-sangka. Alhasil, sekarang gue mulai bikin draft cerita berdasarkan judul tersebut. Isinya ya kira-kira nggak jauh dari problematika janda dan pernak-pernik kehidupan sehari-harinya.

 
Beberapa poin penting yang gue jadiin draft cerita antara lain :

(1) Stigma orang yang selalu “agak-agak gimana gitu” kalo denger status janda, (2) susah-senangnya jadi janda, (3)  janda tua, janda setengah tua, janda muda, janda kembang & janda by accident, sampai pada (4) pilihan sejumlah wanita untuk hidup sebagai janda daripada married lagi.
 
Well, itu hanya beberapa gambaran umum dari draft cerita yang lagi gue bikin. Soal penokohan, plot, karakter dan sebagainya, gue masih mencari-cari yang paling OK. Yang pasti, gue butuh survey, wawancara dengan beberapa nara sumber dan mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya.

|294 Comments »|
         
         
         
 

7

May

 

TUMPANG TINDIH :: JAKARTA XPLORER

Posted By : Emka In : Books, On Wednesday, May 7th, 2008, 9:31 pm

Sebuah cover buku, menjadi “dorongan” tersendiri buat gue. Makanya, sambil sibuk nulis buku Tumpang Tindih dan Jakarta Xplorer, gue sempet-sempetin bikin cover dengan status “uji coba”. Bukan apa-apa, begitu melihat ada contoh covernya, gue merasa terpacu untuk sesegera mungkin menyelesaikan isi bukunya. Adrenalin gue merasa tergoda untuk terus menulis dan menulis.

Syukur-syukur, cover uji coba yang gue bikin dengan susah payah ini –begitu gue rilis di web, bisa mendapatkan masukan dari temen-temen yang kebetulan mampir. Sekadar ngeliat-ngeliat doang atau –ehmmm…, tergoda untuk mencoret-coret sesuatu. Misalnya:

(1) Foto untuk background cover udah OK belum?

(2) Warna covernya “sip” apa nggak?

(3) Font dan tipe hurufnya pas atau malah janggal?

(4) Dan lain-lain.

|40 Comments »|
         
         
         
 

2

May

 

BARENG-BARENG ATAU SATU-SATU (?)

Posted By : Emka In : Books, On Friday, May 2nd, 2008, 6:03 pm

Cover Uji Coba

Dear All,

Sorry nih, gue lagi bingung! Makanya butuh masukan dan saran lagi. Pasalnya sederhana tapi ribet. Rencananya gue bakal rilis JAKARTA XPLORER ::entertainment guide:: bulan Juni 08. Tapi, tiba-tiba gue juga pengen ngerilis buku gue yang lain : TUMPANG TINDIH ::gaya hidup eror di balik kolor::

Secara bahan, dua-duanya udah nyaris lengkap. Tinggal memoles kiri-kanan doang. Enaknya gimana dong? Dua-duanya dirilis bareng atau satu per satu…(???)

Dari sisi tema, buku TUMPANG TINDIH memang lebih “colourfull”. Karena persoalan-persoalan yang gue tulis, jauh lebih kompleks. Sementara JAKARTA XPLORER lebih pada buku “kamus berjalan”. Meski kalau dikaitin satu sama lain, dua buku itu saling berkaitan.

So, jadinya lebih baik dirilis bareng-bareng atau satu-satu?

|39 Comments »|

 
         
     
Copyright © 2008 www.emkamoammar.com
All rights reserved

Powered By : TukuSolution