26 May |
BELILAH AKU JADI PACARMUPosted By : Emka In : Books, Movies, On Monday, May 26th, 2008, 7:49 pm :: No Money, No Pacaran :: Sebuah ide, bisa datang dengan sangat tiba-tiba dan tanpa sengaja. Jadi tidaklah salah, kalau ada ungkapan yang menyebutkan : ide itu ada dimana-mana dan nggak ada habisnya. Seperti halnya judul Belilah Aku Jadi Pacarmu yang muncul begitu saja ketika gue lagi di Jogyakarta dan ngobrol selama 2 jam di telepon dengan seorang cewek dari
Thank’s God ! Semoga buku dan filmnya bisa secepatnya direalisasikan. | |||
26 May |
“Perkawinan” Film dan BukuPosted By : Emka In : Events, On Monday, May 26th, 2008, 7:20 pm :: Dari layar lebar ke buku, dari buku ke layar lebar :: Ngobrolin buku dan film. Tema besarnya : dari layar lebar ke buku, dan dari buku ke layar lebar. Kejadiannya ada di Tarumanegara Knowledge Center (TKC), 23 Mei 2008, dari jam 13.30 Wib sampai jam 16.30 Wib. Bedah kasusnya, buku gue “Jakarta Undercover” yang menjelam jadi layar lebar dan dirilis pada April 2007.
**** |284 Comments »| | |||
25 May |
Cinta KedodoranPosted By : Emka In : Love, On Sunday, May 25th, 2008, 10:08 pm Mumpung cinta lagi sibuk-sibuknya menyapa kesendirianku, tak ada salahnya jika hari ini tiba-tiba aku menjadi sesosok pujangga melankolis yang sok puitis. Mumpung malam belum beranjak dini, tak ada salahnya aku meringis di tengah gerimis. Siapa tahu, hatiku yang lagi dilanda virus kedodoran cinta ini bisa terobati. Setidaknya, lewat ekspresi kata-kata. Daripada menyimpannya seorang diri, lebih baik aku tebarkan setiap incinya pada maya…. Semua memang tanpa rencana. Semua serba kebetulan. Tahu-tahu, dia hadir begitu saja dan meninggalkan secuil senyum yang mengusik tidurku hingga tak lena. Dear, Ms. Nyebelin…!!!!! Inikah sebuah pertanda? Pertama kali tatapku yang bergulir nyata pada beningnya matamu, telah memasung bahagiaku tanpa ampun. Tak peduli seberapa lemah getar itu menyisir kalam batinku. Aku hanya tahu, ada rindu yang kujaga untukmu. Sampai detik ini, gersang dambaku merajuk senyap di tempias lugu sapamu. Terpendar mencipta bintang yang membiaskan terang pada teduh dua bola matamu, Tiba-tiba, rinduku begitu telak menusuk kesendirianku. Membawa anganku bergerak membingkai wajahmu seketika. Detik ini, tak ada yang kuinginkan selain menatap derai indah tawamu. Mestinya, tak kubenamkan segala damba padamu. Tapi ada daya, perjumpaan sesaat yang menyekat sapaku terkurung di ruang hatimu, telah menggiring mataku luluh dalam rindu. Tiba-tiba menjelma nyata, memaksaku takluk dalam cinta yang menyulut bahagia baru. Biarpun sepi tak usai dan terus menyergap sadarku dari keterasingan. Tapi setidaknya, aku mulai sadar…rinduku pun tak juga usai. Merapal namamu dari jerti ketakutanku. Menyesatkan cintaku yang tak surut memamah usai. Mencatut hatimu menjadi satu-satunya yang terindah, untukku…! Apakah ini nyata atau semu…? Apakah ini janji atau sekedar ilusi? Hanya palung batinmu yang mampu mengurai. Aku hanya mengibarkan bendera tanda, selebihnya dirimulah yang mesti mengulur bening talinya, untukku…. Dan, biarkan ini menjadi cinta, jika ini adalah segenap rasaku yang berbicara. Biarkan ini menjadi nyata, jika ini adalah hatiku yang jadi jembatannya. Biarkan ini menjadi bahagia, jika ini adalah jalannya. Biarkan bahagia itu sendiri yang mengurai segala warasku menjadi ada. Yang pasti, bahagiaku ini ada untuk jadi nyata, bukan sia-sia… |439 Comments »| | |||
24 May |
Moammar Emka, Datang Dengan Cinta Pulang Dengan KolorPosted By : Emka In : Movies, On Saturday, May 24th, 2008, 9:17 pm Sudah lama tidak terdengar kabar, diam-diam penulis novel sekaligus penulis skenario Jakarta Undercover, Moammar Emka, kini tengah sibuk mempersiapkan sebuah skrip terbaru miliknya. Dan tidak jauh berbeda dengan apa yang kerap ia tulis dalam beberapa novelnya, ceritanya kali ini juga akan mengetengahkan bumbu romantisisme cinta sebagai balutan ceritanya. “Gue sekarang lagi nyiapin skrip film, judulnya Kolor For Love. Yah memang ada adegan-adegan “kolornya” (istilah yang dipakai Emka dalam menyebut adegan seks, red.) juga,” tukas Emka ketika dihubungi via telephone pada Selasa (13/5) siang. Kolor For Love adalah sebuah cerita komedi yang menyatakan bahwa tidak semua laki-laki di dunia adalah “bangsat”, karena ada juga laki-laki yang mencintai perempuan dengan tulus. “Ceritanya itu nanti ada seorang laki-laki yang menikah sama cewe kaya raya, tapi karena sesuatu hal, akhirnya mereka berpisah. Namun karena sang lelaki mencintai wanitanya dengan tulus, ketika dia pergi, dia hanya membawa celana kolornya aja,” jelas Emka yang menyebutkan karena itulah tagline film ini berbunyi “Datang Dengan Cinta, Pulang Dengan Kolor”. Ide ceritanya sendiri, diungkapkan oleh Emka datang dari pengamatannya terhadap kehidupan sekitarnya. “Ide ceritanya dari gue, dan kalo ditanya inspirasinya dari mana, sederhana aja sih, dari kehidupan keseharian juga koq,” tukas pria kelahiran Tuban, 13 Februari 1974 ini. Diakhir pembicaraan, Emka juga mengatakan bahwa ia tengah mempersiapkan lanjutan film // Published by www.21cineplex.com. //Foto : Courtesy www.21cineplex.com P.S : Tagline Tumpang Tindih adalah Gaya Hidup Eror di Balik Kolor. Selain itu, ada satu judul buku dan film yang lagi gue corat-coret draftnya : Belilah Aku Jadi Pacarmu. |269 Comments »| | |||
22 May |
Affirming Sexuality Through MediaPosted By : Emka In : Events, On Thursday, May 22nd, 2008, 6:48 pm ==================================================== By Moammar Emka, Chiang Mai, 19-20 June 2007 - The Fact : It’s hard to talk and write about ‘sexuality’ trough media. Based on my experiences, we have to be able to create ‘good movement’ and ‘soft news’ to publish sexuality through media. 1) The first, When I worked for newspaper and magazine among seven years old, the focus of my coverage is nor far from sexuality, which is connected with entertainment and lifestyle in the city of For example : I can’t use/mention word of Penis or Vagina. My editor, use the inisial thing : Penis is Mr. Big, the banana or Mr. Jhony. Vagina is V, Miss Vegy, etc. I can’t describe sexual expression/activity, such as describing the kissing, foreplay, intercousing, etc. in my article. Oh, God. Gime me free-space to write… Because at that time and I think until now : Sex is taboo. Sex is something we don’t have to talk and discuss. *** 2) So, Is Number two, When I decide to write my book : Jakarta Undercover and I published on 2002, - I choose a title with English Language : Jakarta Undercover. For me, it’s cool. - I used many English language to describe the sexual activity. And offcourse, use the initial or metaphor language. Such as : Making Love with full body contact, Buah Dada = bukit kembar (boobs), to mention sex = X symbol (such as massage XXX, sauna XXX, doing XXX activity, etc) or use ++ symbol (sauna ++, girls ++, massage boy ++, etc. - The other thing, I wrote my book with light-head-line. Why? I realized, before there is no book with subject matter is sexual life. Most people can’t except the sexual- material - I wrote about (1) the prostitution : \what’ happened? Who are they? (2) the community who celebrate their sex-expressio or celebrate the sex-pleasure. *** Side-effect : I was surprised, my book being a best seller, and make the people ‘shock’. It’s really happened? Is it true what I have wrote? Etc. They don’t believe - More than 3 hundred thousand copies for 2 years. - People get attention with my book. And the same time, all the media’s in - I remebered, when I was hosted The Nitelife-program on Metro TV (one of news TV in - For 1 year, people and media still get attention with my book. TV, Radio, etc. universities, muslim organizatation, and the last : the government (parlement). *** For me, it’s amazing. Coz, I can talk sexuality in everywhere. And at the same time, more than 5 TV station lauch the sexuality program, And at 2003-2004, I was become one of the presenter at RCTI (number one TV in But some of my material has being CENCORED by the government through the department of Ministry of Communication and Information. There are many rules in my country : - Do not show the lip-kissing in the media - Do not dress up too sexy (such as bikini, under-wear, lingerie, - Do not talk dirty. 3) Radio : In 2005-2006, I was an announcer in one of young radio in But, the government through in the name of Islamic Organization, MUI (Committee of Indonesia Ulama, religion leader’s) government representative, send me a warning letter to stop my program.
4) Movie : My movie : And the fact : Being CENCORED! *** P.S : Sorri banget nih…karena bahasa Inggris gue pas-pas-an, jadilah artikel ini rada “ngaco” dan “amburadul” !!!!
| |||
21 May |
Ada Rindu di YogyakartaPosted By : Emka In : Events, On Wednesday, May 21st, 2008, 11:47 pm Dan…selama empat hari, gue tidak menyiakan-nyiakan waktu buat “city tour”. Dari mulai makan di warung Sapi Bali yang punya menu khas Iga Bakar (hmmm…yummy) Jl Palagan Tentara Pelajar –persisnya di kawasan Utara Grand Hyatt, nongkrong “berjam-jam” sambil ngobrol2, “tebar pesona”, “nyari kenalan baru”, “browsing”di Own Cafe (Tempat Kongkow Paling Betul) di kawasan Sagan, “ngubek-2″ kawasan Malioboro sampai memborong berbagai jenis batik di toko Batik Tirto Noto di Jl Nogosari Kidul, persisnya di sekitar Kraton Ngayogyakarto. Busyeeet! Gue seneng banget. Paling nggak, gue bisa ngilangin boring di Jakarta. Semua tempat yang gue singgahi, rasa-rasanya nggak ada yang “mbosenin”. Rencana stay dua hari, jadinya malah molor empat hari. Puncaknya, offcourse, gue nggak lupa “party” di Hugos (Tempat Party Se-party-party-nya) , Rabu malam. Biasalah, ini kayaknya jadwal wajib kalo gue pergi ke luar kota. Saking serunya, gue baru pulang jam 5 pagi.Sayangnya, ada satu yang kurang. Nggak ada “my special one” di samping gue. Dia lagi berada nun jauh di sana. Di tengah kesyahduan gue menikmati suasana Jogya, ada rindu yang hadir dan menyekik tiba-tiba. Rindu yang tumpang tindih tanpa kompromi. Satu untuk Jogya, satu lagi untuk “my special one” di sana. Menyudutkanku dalam debar yang memamah gundah. Aaahhhhhh, nyebelin!!!! |301 Comments »| | |||
8 May |
JANDA TANYA, JANDA SERU (2)Posted By : Emka In : Movies, On Thursday, May 8th, 2008, 6:44 pm It’s gonna be movie – title. Yes, judul di atas kemungkinan besar akan dijadikan judul film. Terus terang, judul Janda Tanya Janda Seru itu muncul begitu saja saat gue dan temen-temen biasa ngerumpi dan latah-latahan di Menteng. Entah siapa yang memulai, kalimat Janda Tanya dan Janda Seru muncul begitu saja di tengah obrolan. Dan gue surprise banget karena ketika ada temen gue yang kerjaannya sebagai produser film, sangat tertarik untuk menjadikan Janda Tanya Janda Seru sebagai judul film. Tawaran yang sangat menarik itu, tentu saja nggak gue sia-sia-in. Namanya juga kesempatan, datangnya seringkali nggak disangka-sangka. Alhasil, sekarang gue mulai bikin draft cerita berdasarkan judul tersebut. Isinya ya kira-kira nggak jauh dari problematika janda dan pernak-pernik kehidupan sehari-harinya.
(1) Stigma orang yang selalu “agak-agak gimana gitu” kalo denger status janda, (2) susah-senangnya jadi janda, (3) janda tua, janda setengah tua, janda muda, janda kembang & janda by accident, sampai pada (4) pilihan sejumlah wanita untuk hidup sebagai janda daripada married lagi. | |||
7 May |
TUMPANG TINDIH :: JAKARTA XPLORERPosted By : Emka In : Books, On Wednesday, May 7th, 2008, 9:31 pm Sebuah cover buku, menjadi “dorongan” tersendiri buat gue. Makanya, sambil sibuk nulis buku Tumpang Tindih dan Jakarta Xplorer, gue sempet-sempetin bikin cover dengan status “uji coba”. Bukan apa-apa, begitu melihat ada contoh covernya, gue merasa terpacu untuk sesegera mungkin menyelesaikan isi bukunya. Adrenalin gue merasa tergoda untuk terus menulis dan menulis. Syukur-syukur, cover uji coba yang gue bikin dengan susah payah ini –begitu gue rilis di web, bisa mendapatkan masukan dari temen-temen yang kebetulan mampir. Sekadar ngeliat-ngeliat doang atau –ehmmm…, tergoda untuk mencoret-coret sesuatu. Misalnya: (1) Foto untuk background cover udah OK belum? (2) Warna covernya “sip” apa nggak? (3) Font dan tipe hurufnya pas atau malah janggal? (4) Dan lain-lain. | |||
2 May |
BARENG-BARENG ATAU SATU-SATU (?)Posted By : Emka In : Books, On Friday, May 2nd, 2008, 6:03 pm Dear All, Sorry nih, gue lagi bingung! Makanya butuh masukan dan saran lagi. Pasalnya sederhana tapi ribet. Rencananya gue bakal rilis JAKARTA XPLORER ::entertainment guide:: bulan Juni 08. Tapi, tiba-tiba gue juga pengen ngerilis buku gue yang lain : TUMPANG TINDIH ::gaya hidup eror di balik kolor:: Secara bahan, dua-duanya udah nyaris lengkap. Tinggal memoles kiri-kanan doang. Enaknya gimana dong? Dua-duanya dirilis bareng atau satu per satu…(???) Dari sisi tema, buku TUMPANG TINDIH memang lebih “colourfull”. Karena persoalan-persoalan yang gue tulis, jauh lebih kompleks. Sementara JAKARTA XPLORER lebih pada buku “kamus berjalan”. Meski kalau dikaitin satu sama lain, dua buku itu saling berkaitan. So, jadinya lebih baik dirilis bareng-bareng atau satu-satu? |39 Comments »| |
|||




























